Pesan Buat Anakku
Anakku, ketika kau akan bisa berjalan
hati-hatilah, jalan ini licin, berdebu, dan terjal
tak ada tongkat kayu yang menyanggamu
bahkan tak ada tangan yang menggandengmu.
Anakku, ketika kau akan bisa berbicara
hati-hatilah, ruangan ini penuh dengan suara-suara
banyak serangga, hewan, bahkan manusia berteriak
dengarkan suara yang bersih, bening, dan merdu
agar telingamu merekam suara indah sampai ke lubuk hatimu
Anakku, ketika kau akan bisa berlari, bahkan bergerak bebas
ingatlah bahwa ujung dunia ini terbatas
jangan kau sangaka ufuk timur itu batas akhir
jangan kau percayai bahwa ufuk barat itu akhir perjalanan
Masih ada tempat yang lebih sempurna menunggumu
Purwantaka
dalam rindu buat anakku
Februari 2014
Jumat, 21 Februari 2014
Antologi Puisi ( Penaku Menari Sendiri ) "Tuhan"
Tuhan Memelukmu dengan Kasih bukan dengan Tangan
Kadang tak pernah kita rasakan, tuhan telah memeluk kita
Kadang tak pernah kita pikirkan, Tuhan telah membelai jiwa kita
Kadang tak pernah kita berterimakasih, Tuhan telah menganugerahkan kehidupan pada kita
Kadang kita mengumpat dengan seenaknya, lupa Tuhan mendengar bisikan hati kita
Kadang kita memaki orang tak terkendali, lupa Tuhan dekat dengan kita
Kadang kita berlaku seenaknya, lupa bahwa kita ada yang punya
Tuhan telah memelukmu sampai saat ini
Tuhan telah melindungimu dari panas dan terik matahari
Tuhan telah memberi air kehidupan
Sedikit Tuhan menegurmu dengan debu
sedikit Tuhan menegurmu dengan bencana banjir
Sedikit Tuhan menegurmu dengan angin
Sedikit pula kita sadar akan teguran Tuhan
Sedikit pula kita berbenah untuk masa depan
Sedikit pula kita kembali bersyukur pada Tuhan
Tuhan memelukmu dengan kasih
Tuhan memelukmu dengan rasa sayang
Tuhan memelukmu bukan dengan tangan
Purwantaka
Februari berselimut Mendung
Kadang tak pernah kita rasakan, tuhan telah memeluk kita
Kadang tak pernah kita pikirkan, Tuhan telah membelai jiwa kita
Kadang tak pernah kita berterimakasih, Tuhan telah menganugerahkan kehidupan pada kita
Kadang kita mengumpat dengan seenaknya, lupa Tuhan mendengar bisikan hati kita
Kadang kita memaki orang tak terkendali, lupa Tuhan dekat dengan kita
Kadang kita berlaku seenaknya, lupa bahwa kita ada yang punya
Tuhan telah memelukmu sampai saat ini
Tuhan telah melindungimu dari panas dan terik matahari
Tuhan telah memberi air kehidupan
Sedikit Tuhan menegurmu dengan debu
sedikit Tuhan menegurmu dengan bencana banjir
Sedikit Tuhan menegurmu dengan angin
Sedikit pula kita sadar akan teguran Tuhan
Sedikit pula kita berbenah untuk masa depan
Sedikit pula kita kembali bersyukur pada Tuhan
Tuhan memelukmu dengan kasih
Tuhan memelukmu dengan rasa sayang
Tuhan memelukmu bukan dengan tangan
Purwantaka
Februari berselimut Mendung
Antologi Puisi ( Penaku Menari Sendiri )Puisi Untuk Pejuang Kesiangan " Mengapa Baru Sekarang "
Mengapa Baru Sekarang
Mengapa baru sekarang Engkau berbicara
sedangkan kejadian sudah terkubur waktu
korban sudah berjatuhan
Mengapa Engkau baru berteriak-teriak sekarang
kemana Engkau saat kejadian
korban sudah hampir hilang ditelan bumi
Mengapa Engkau baru sekarang berteriak lantang di depan gedung
sedangkan matahari sudah condong ke barat
kemana Engkau saat pagi masih berjalan
Mengapa Engkau baru merasakan panas sekarang
sedangkan kulit para korban sudah mengelupas
kemana Engkau saat evakuasi berjalan
Sekali lagi aku bertanya
mengapa baru sekarang Engkau berani berjuang
sedangkan hari sudah hampir petang
Bantul, 22 Februari 2012
Dalam ruang sekat pandang terbatas
Mengapa baru sekarang Engkau berbicara
sedangkan kejadian sudah terkubur waktu
korban sudah berjatuhan
Mengapa Engkau baru berteriak-teriak sekarang
kemana Engkau saat kejadian
korban sudah hampir hilang ditelan bumi
Mengapa Engkau baru sekarang berteriak lantang di depan gedung
sedangkan matahari sudah condong ke barat
kemana Engkau saat pagi masih berjalan
Mengapa Engkau baru merasakan panas sekarang
sedangkan kulit para korban sudah mengelupas
kemana Engkau saat evakuasi berjalan
Sekali lagi aku bertanya
mengapa baru sekarang Engkau berani berjuang
sedangkan hari sudah hampir petang
Bantul, 22 Februari 2012
Dalam ruang sekat pandang terbatas
Langganan:
Postingan (Atom)